Mesa85’s Blog

Ilmu pengetahuan pada masa muda akan membuat orang menjadi bijaksana pada hari tua

Pemimpin Daerah Di Era Desentralisasi

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Oleh : Hans Kristian Mesa

img_0038Tidak lama lagi Sumba Tengah akan mencatat sejarah baru. Dengan mengadakan sebuah pesta demokrasi yaitu Pemilihan Kepala Daerah (pilkada). Sebagai kabupaten baru, pilkada merupakan tolak ukur untuk masyarakat Sumba Tengah memilih Bupati dan Wakil Bupati yang akan memimpin Sumba Tengah lima tahun kedepan.
Semua calon yang telah mendeklarasikan sebagai calon Bupati dan wakil Bupati Sumba Tengah sudah siap-siap berkampanye dengan berbagai cara dan strategi. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencari simpati massa, dari mulai mengunjungi pasar, berkunjung kedesa-desa, menghadiri seminar, debat terbuka, sampai membagi-bagikan sembako. Intinya semua calon siap dengan segala perangkat kampanyenya.

Terlepas siapapun yang menjadi pemimpin yang harus menjadi perhatian adalah, siapapun yang terpilih ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama dengan figur untuk menjadi seorang pemimpin Sumba Tengah di era desentralisasi. Sosok figur pemimpin ideal yang akan datang menjadi masalah sentral yang benar-benar harus mendapatkan perhatian serius dari parpol pengusung pasangan calon serta para pemilih Pilakada 2008, karena pasangan bupati dan wakil bupati yang terpilih dalam Pilkada 2008 akan menjadi nakhoda, penentu arah dan keberhasilan Sumba Tengah dalam mencapai kemajuan pembangunan disegala bidang. Tidak hanya mengusung calon peminpin untuk membangunkan khalayak masyarakat Sumba Tengah untuk semata-mata mengidealkan figur pemimpin menjelang kontes pemilihan kepala daerah (Pilkada), tetapi juga menggugah komitmen masyarakat untuk sungguh-sungguh berkolaborasi dengan pemerintah serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan sesuai posisi dan perannya. Kriteria pemimpin ideal sudah menjadi topik pembicaraan yang lazim. Bahkan untuk sebagian orang sudah cukup memancing rasa bosan. Bahkan ada yang bertanya “tidak ada topik lain yang lebih pantas dibicarakan menyongsong suksesi kepemimpinan politis daerah?”. Saya hanya berkomentar “tulisan ini merupakan intisari pemikiran kaum intelektual yang dirangkum dari hasil diskusi Forum Masyarakat Peduli Sumba Tengah (FMPST).

Desentralisasi: Konsep dan prktek

Dalam upaya menjaga keseimbangan kuasa dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam konteks perwujudan integrasi bangsa, desentralisasi sudah diterapkan di Indonesia pasca-pengeluaran UU 22/1999. Desentralisasi diartikan sebagai ‘pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.”(Pasal 1,ayat7UU RI No.32/2004).
Bandingkan pengertian di atas dengan konsep desentralisasi yang dipaparkan para ahli. Hanson (1998) membagi desentralisasi menjadi: (1) dekonsentrasi (pelimpahan tugas dan unit kerja, bukan wewenang, dari unit yang lebih tinggi dalam organisasi ke unit yang lebih rendah; (2) delegasi (pelimpahan wewenang dalam pengambilan keputusan dari unit organisasi yang lebih tinggi ke tingkatan lebih rendah, tetapi wewenang itu sesekali dapat dicabut kembali ketika unit yang diberi wewenang itu tidak mampu lagi melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diemban); (3) devolusi (pelimpahan wewenang dan tanggung jawab disertai dengan dasar hukum kepada unit lebih rendah yang otonom untuk dapat bertindak secara mandiri tanpa selalu meminta izin dari level kekuasaan lebih tinggi). Kiranya jelas bahwa dalam tataran konsep, desentralisasi di Indonesia sudah bercorak devolusi karena tidak hanya pelimpahan wewenang ke daerah-daerah otonom dilandasi undang-undang. Sayang, dalam prakteknya, dekonsentrasi dan delegasi yang terjadi. Akibatnya, muncul berbagai masalah mendasar dalam konteks desentralisasi di Indonesia: (1) ketergantungan pemerintahan daerah yang tinggi ke pemerintah pusat, (2) rumusan kebijakan yang membingungkan, (3) kuasa dan wewenang Jakarta yang masih kuat; dan (4) peran Jakarta yang masih dominan dalam manajemen sumber daya alam dan lingkungan sehingga membatasi partisipasi masyarakat. Sampai di sini, jawaban terhadap pertanyaan diatas untuk menuntut figur pemimpin Sumba Tengah yang ideal dan berpihak pada rakyat terjawab: Partisipasi dan komitmen masyarakat dapat meningkat jika kuasa dan wewenang dalam pengambilan keputusan dilimpahkan kepadanya sesuai peran dan fungsinya.

Pemimpin yang ideal
Dalam realitas seperti ini, para pemimpin dan calon pemimpin daerah yang dibutuhkan masyarakat Sumba Tengah ke depan perlu berjiwa misioner, visioner, strategis, transformatif, autentik, dan etis. Pemimpin berjiwa strategis berorientasi pada misi dan visi yang bukan ditetapkan secara gegabah melainkan berdasarkan penelitian-penelitian independen. Betapa tidak, misi selalu menjawab pertanyaan fundamental: Mengapa kita berada di sini? Misi merupakan pernyataan yang mengandung prinsip utama atau tujuan mendasar pembangunan itu sendiri. Jika dibandingkan dengan sebuah perjalanan, misi merupakan tujuan akhir sebuah perjalanan. Visi, pada gilirannya ingin menjawab: Bagaimana agar misi tersebut akan diwujudkan pada masa mendatang? Karena itu ia dapat diibaratkan sebuah kompas, arah perjalanan yang akan ditempuh pembangunan itu sendiri.
Selanjutnya, misi dan visi saja tidak cukup. Ia harus bermata rantai dengan rencana strategis. Seperti visi, rencana strategis membayangkan sebuah kenyataan masa depan yang beda dari kenyataan sekarang. Namun, tidak seperti visi, rencana strategis menawarkan strategi yang sistematik untuk mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai pada masa mendatang. Rencana keseluruhan dipetakan sejak awal secara spesifik sehingga keseluruhan proses dapat secara jelas dipaparkan. Berkaitan dengan ini, visi memang berorietasi pada tujuan, tetapi ia tidak selalu memetakan cara-cara yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut, terutama jika tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang tidak akan pernah dicapai. Rencana merupakan peta perjalanan. Ia berfungsi menyediakan rute, jadwal, dan bahkan waktu perjalanan yang akan ditempuh. Kemandulan pembangunan Sumba pada umumnya bisa saja berakar, salah satunya, pada lemahnya aspek perencanaan dan kepemimpinan strategis . Selanjutnya, pemimpin dan calon pemimpin yang strategis perlu didukung model kepemimpinannya yang transformasional. Karena itu Sumba Tengah perlu seorang pemimpin dan calon pemimpin yang tidak hanya menjadi perumus tujuan dan penunjuk arah, tetapi seseorang yang mampu mengatur rencana strategis secara transformasional. Kekhasan pemimpin transformasional terletak pada fungsinya sebagai sumber inspirasi bagi pengikut untuk komitmen pada tujuan-tujuan bersama. Berbeda dengan tipe kepemimpinan transaksional yang ditandai dengan motif relasi pemimpin dan yang dipimpin untuk sebuah kerangka simbiosis mutualisme (saling menguntungkan), kepemimpinan transformasional pertama-tama berinteraksi dengan pengikutnya demi integritas dan tujuan bersama.
Seorang pemimpin transformasional dapat dikatakan autentik dan etis ketika dia berorentasi pada kualitas, nilai-nilai, dan tujuan sekaligus mampu menghargai aspek kemanusiaan. Ia lebih bersikap proaktif daripada reaktif dan secara kreatif menciptakan berbagai peluang yang mungkin untuk perbaikan agar tercapainya pemenuhan kebutuhan kemanusiaan.
Belajar dari Soekarno dan Soeharto
Argumen ini berpijak pada perkembangan kepemimpinan dua mantan presiden indonesia yang pada awal karir kepemimpinannya. Hos Cokroaminoto gurunya Bung Karno adalah seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian sejati, akan tetapi kalah dengan sosok muridnya Bung Karno yang memiliki kharisma dan gaya hidup yang merupakan simbol pemimpin Nasional. Namun akhirnya jatuh akibat rakyat meragukan sepakterjang dan kejujuran Putra Sang Fajar itu. Kemudian muncul Seoharto yang disebut bak pahlawan besar. Sayang gebrakan pak Harto selama 32 tahun dalam bidang ekonomi- pembagunan sebagai panglima dalam kepemimpinannya dinodai KKN. Dan rakyat Indonesia pun kecewa. Dilengser dari dari tumpuk kekuasaan.

Ungkapan di atas sengaja dipetik di sini untuk membuka cakrawala pikiran kita bahwa ke depan Sumba Tengah membutuhkan pemimpin yang tidak mudah dicuci otaknya oleh gaya kepemimpinan dan kepribadia calon Bupati/Wakil Bupati. Sumba Tengah ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu memahami realitas hari ini secara menyeluruh dan proporsional untuk mampu memprediksi akan apa yang terjadi mendatang. Dan Sumba Tengah ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu berkata cukup bahkan berhenti menjadi pemimpin kalau Sumba Tengah masih digurau dengan Nasib Tidak Tentu. Karena itu pilihlah calon pemimpin yang bermutu, bukan semata-mata karena dia berbasis Kristen Protestan atau Katolik; bukan semata-mata karena dia orang Sabu atau Sumba; apalagi kalau hanya melihat dia dari A, B atau gabungan partai-partai politik lainnya. Mudah-mudahan…?

April 13, 2009 Posted by | Opini | , | Tinggalkan komentar

“Civil Society” dan Demokrasi, untuk Apa?

Oleh : Drs. Umbu Tagela

MASALAH Civil society baru hangat dibicarakan tahun 1990-an di Indonesia. Hal ini lebih disebabkan oleh kuatnya tekanan pemerintah Orde Baru pada tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Para ahli ilmu sosial, tokoh intelektual, pejuang demokrasi, dan cendekiawan, tampaknya kesulitan mencari formula yang tepat untuk memaknai suatu perjuangan menuju perubahan yang dicita-citakan. Dalam keadaan galau dan gamang itu bangsa Indonesia berpaling pada civil society yang dijadikan primadona untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakat kita yang nyaris lumpuh.

Civil society bergulir dengan pemaknaan yang variatif oleh berbagai kalangan. Ada yang menerjemahkan sebagai masyarakat sipil, masyarakat kewargaan, masyarakat madani, dan ada juga yang tetap menggunakan civil society. Semua terjemahan tersebut disuguhkan kepada publik dengan argumentasi masing-masing, dan karenanya masyarakat atau publik juga memahaminya menurut selera dan kepentingannya.

Civil society sebenarnya merupakan suatu ide yang terus diperjuangkan manifestasinya agar pada akhirnya terbentuk suatu masyarakat bermoral, masyarakat sadar hukum, masyarakat beradab atau terbentuknya suatu tatanan sosial yang baik, teratur dan progresif.

Kata civil cenderung dikonotasikan sebagai lawan dari militer. Demikian pula madani dalam masyarakat madani cenderung dikonotasikan dengan madaniyah atau Medina, yang dikonotasikan bernuansa Arab. Padahal arti madaniyah sebagai sumber munculnya kata madani adalah peradaban atau civilization.

Lain lagi dengan kewargaan yang merupakan terjemahan dari bahasa latin yakni, civilis atau civis. Atas pijakan yang demikian itulah kebanyakan orang sepakat untuk konsisten menggunakan civil society karena terjemahan yang lain dianggap kurang sesuai dengan konsep aslinya.

Substansi
Cicero adalah seorang filsuf Romawi yang pertama memunculkan gagasan societies civils dalam sejarah filsafat politik. Civil society merupakan suatu konsep yang dinamis, yang selalu mengalami perubahan makna.

Misalnya, pada abad 18 civil society dimaknai sebagai negara yang merupakan entitas yang mendominasi entitas lainnya. Di akhir abad ke 18 civil society dimaknai sebagai negara dalam nuansa dua entitas yang berbeda, seiring dengan aliran Hegelian yang membagi kehidupan manusia dalam tiga wilayah yang berbeda, yakni, keluarga, civil siciety, dan negara.

Dalam pandangan Hegel, civil society adalah entitas yang memiliki ketergantungan pada negara. Sebagai misal negara harus mengawasi civil society dengan cara menyediakan perangkat hukum dan administrasi. Hegel berpendapat entitas civil society mempunyai kecenderungan entropi atau melemahkan diri sendiri (a self crippling entity), oleh karena itu harus diawasi oleh negara.

Pandangan Hegel yang agak pesimistik ini, akhirnya memiliki gayut dengan pandangan Karl Marx tentang civil society. Bahkan Karl Marx memposisikan civil society pada basic material dalam tautan dengan produksi kapitalis. Oleh Marx, civil society dimaknai sebagai kelas borjuis yang menjadi tantangan baginya untuk membebaskan masyarakat dari berbagai penindasan, oleh karena itu civil society menurut dia harus dilenyapkan demi terwujudnya masyarakat tanpa kelas.

Tokoh lain adalah Gramsci. Dalam banyak hal pendapat Gramsci mirip pendapat Marx. Perbedaannya terletak pada memposisikan civil society bukan pada basic material tetapi pada tataran suprastruktur, sebagai wadah kompetisi untuk memperebutkan hegemoni kekuasaan. Peran civil society pada konteks yang demikian oleh Gramsci ditempatkan sebagai kekuatan pengimbang di luar kekuatan negara. Pandangan Gramsci ini lebih bernuansa ideologis ketimbang pragmatik. Dalam perjalanan waktu, akhirnya konsep Gramsci ini dikembangkan oleh Habermas seorang tokoh madzab Frankfurt melalui konsep the free public sphere atau ruang publik yang bebas, di mana rakyat sebagai citizen memiliki akses atas setiap kegiatan publik.

Sebagai misal rakyat boleh ngomong apa saja, berbuat apa saja baik secara lisan maupun tertulis, melalui media massa, sekolah atau pertemuan-pertemuan asal tidak melanggar hukum atau mengganggu kepentingan umum. Pandangan Habermas ini, tampaknya sedang berlangsung di Indonesia saat ini. Cuma yang jadi soal, kita baru berada pada tataran proses belajar, setelah sekian lama kebebasan kita dibelenggu oleh penguasa. Sikap egalitarian bangsa ini telah terkoyak-koyak oleh perjuangan memperebutkan atribut-atribut semu yang dikendalikan oleh invisible hand. Jiwa dari the free public sphere sebenarnya telah terakomodasi dalam UUD 1945 Pasal 28. Namun, karena kuatnya political will penguasa spirit dari gagasan Habermas ini memudar nyaris punah.

Konsep yang diinginkan
Kalau saja kita mau jujur, makna civil society yang kita idamkan (walau sebagian) adalah konsep civil society menurut Habermas. Kita telah lama memimpikan ruang publik yang bebas tempat mengekspresikan keinginan kita atau untuk meredusir, meminimalisir berbagai intervensi, sikap totaliter, sikap etatisme pemerintah. Pada ruang publik inilah kita memiliki kesetaraan sebagai aset untuk melakukan berbagai transaksi wacana tanpa harus takut diciduk, diintimidasi atau ditekan oleh penguasa. Model ini sudah lama tetapi sekaligus merupakan format baru bagi kita untuk mereformasi paradigma kekuasaan yang telah dipuntir oleh penguasa Orde Baru.

The free public sphere merupakan inspirator, motivator sekaligus basis bagi mekanisme demokrasi modern, seperti yang dialami oleh Amerika, bangsa Eropa dan kawasan dunia lain. Demokrasi modern secara substantif mengacu pada kebebasan, kesetaraan, kemandirian, kewarganegaraan, regularisme, desentralisme, aktivisme, dan konstitusionalisme. Persoalannya bagaimana cara yang efektif agar spirit demokrasi modern ini bisa disemaikan dengan baik?

Jawabannya, adalah kita mesti membangun dan mengembangkan institusi seperti LSM, organisasi sosial, organisasi agama, kelompok kepentingan, partai politik yang berada di luar kekuasaan negara, termasuk Komnas HAM dan Ombudsman yang dibentuk oleh pemerintah. Hal ini tidak serta merta menghilangkan keterhubungannya dengan negara atau bersifat otonom. Berbagai undang-undang, hukum dan peraturan negara tetap menjadi pijakan bagi setiap institusi dalam melakukan aktivitasnya. Hal terpenting dalam civil society adalah kesetaraan yang bertumpu pada kedewasaan untuk saling menerima perbedaan. Tanpa itu, civil society hanya merupakan slogan kosong.

Hubungan dengan demokrasi
Civil Society dan demokrasi ibarat “the two side at the same coin”. Artinya jika civil society kuat maka demokrasi akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya jika demokrasi bertumbuh dan berkembang dengan baik, civil society akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Itu pula sebabnya para pakar mengatakan civil society merupakan rumah tempat bersemayamnya demokrasi.

Menguatnya civil society saat ini sebenarnya merupakan strategi yang paling ampuh bagi berkembangnya demokrasi, untuk mencegah hegemoni kekuasaan yang melumpuhkan daya tampil individu dan masyarakat. Dalam praktiknya banyak kita jumpai, individu, kelompok masyarakat, elite politik, elite penguasa yang berbicara atau berbuat atas nama demokrasi, walau secara esensial justru sebaliknya.

Kesadaran masyarakat akan demokrasi bisa dibeli dengan uang. Kelompok masyarakat tertentu diatur untuk bertikai demi demokrasi. Perseteruan eksekutif dan legislatif saat ini sebenarnya tidak kondusif bagi pemulihan ekonomi kita, tetapi hal itu tetap dilakukan demi demokrasi. Kalau rakyat kecil selalu jadi korban, apakah makna demokrasi yang kita perjuangkan sudah betul? Atau sedang mengalami distorsi.

April 13, 2009 Posted by | Tak Berkategori | , | Tinggalkan komentar

KETENTRAMAN

Oleh: JAMES ALLEN

Pengantar:
Tulisan Motivasi ini di kutip dari buku karangan  JAMES ALLEN yang ber judul As A Man Thinketh. Buku yang sangat menginspirasi berjuta-juta orang di dunia dan telah diterjemahkan kedalam 25 bahasa. Siapakah JAMES ALLEN?. Dia lahir di Leicester, Inggris pada 1864 dan pekerja sebagai  sekretaris pribadi seorang eksekutif di perusahaan inggris pada 1902. Pada usia 38 tahun Dia berhenti menulis, dan sudah lebih  25 buku  yang di tulisnya sebelum meninggal pada usia 48 tahun. Tulisan ini di kutip dari Bab 7. Tujuannya adalah untuk mendorong semua orang, siapa pun itu, laki-laki mau pun perempuan supaya mereka dapat menemukan dan mempersepsikan tentang kebenaran bahwa “yang membentuk diri merekan adalah mereka sendiri”.

Ketenangan pikiran merupakan salah satu permata kebijaksanaan yang terindah. Ketenangan piliran itu merupakan hasil dari usaha pengendalian diri yang dilakukan sejak lama dan penuh kesabaran. Kehadirannya merupakn indikasi kematangan pengalaman, dan indikasi dari kepemilikan pengetahuan yang mendalam tentang hukum dan cara kerja pikiran.

Seorang dapat dikatakan sebagai orang yang tenang apabila ia memahami dirinya sendiri sebagai makhluk dengan pikiran yang dapat berkembang. Untuk memiliki pengetahuan sepeti ini di perlukan kemampuan untuk memahami orang lain sebagai hasil dari pemikiran, dan selanjutnya sembari ia membangun pemahaman yang benar dan dapat melihat dengan semakin jelas hubungan internal dari segala seuatu dengan cara merangkai hubungan sebab-akibat, ia pun akan mampu menghilangkan perasaan bingung,mudah marah, khatir dan keluh kesah. Ia akan selalu tenang dan selalu tabah menghadapi apa pun, dan hatinya menjadi tentram.

Orang yang tenang, telah belajar bagaimana menguasai diri, ia tahu bagaimana harus menempatkan diri diantara orang lain. Dan sebagai akibatnya orang-orang disekelilingnya, akan mehormati kekuatan spiritual yang dimilikinya. Mereka akan merasa bahwa mereka dapat belajar darinya dan percaya padanya. Semakin tenang pembawaan seseorang, maka semaka akan semakin besar keseksesan yang dapat diraihnya, semakin besar pengaruhnya, dan semakain besarpula kekuatannya untuk membawa kebaikan. Seorang pedagang biasa sekali pun akan dapat meningkatkan keberhasilan usahanya jika ia dapat membangun kendali diri dan temperamen yang tenang, karena orang akan lebih memilih bertransaksi dengan seseorang yang tindak-tanduknya tenag.

Seseoarang yang berkribadian kuat dan tenang akan selalu dicintai dan dihormati. Ia bagaikan pohon yang rindang ditengah padang tandus, atau bagaikan batu pelindung dio tengah badai. “siapa yang tidak menyuakai hati yang tenang, teperamen yang baik, kehidupan yang seimbang?” tidak peduli bagaimana keadaan cuaca, cerah maupun hujan, dan tidak menjadi masalah perubahan seperti apa yang akan terjadi pada mereka yang memiliki anugrah seperti ini, karena mereka akan selalu baik, tentram dan tenang. Kemantapan karakter yang luar biasa ini yang kita sebut “ tentram” merupakan pelajaran terakhir tentang budaya. Tentram merukan bunga kehidupan, buah dari jiwa. Tentram sangat berharga layaknya kebijaksanaan- dan lebih diidamkan dari pada emas murni. Betapa mencari uang saja terlihat menjadi begitu bearti dibandingkan dengan sebuah kehidupan yang tentram. Kehidupan yang menhini lautan kebenaran, yang ada di bawa riak gelombang, yang jauh dari sentuhan gejolak emosi, yang ada dalam ketenangan abadi!

sepanjang yang kita tahu sedah berapa banyakkah orang yang tealh menyia-nyiakan hudupnya, yang telah menghancurkan semua yang tadinya manis dan indah hanya dengan ledakan amarah, yang telah menghancurkan kemantapan karakter mereka dan menyebabkan pertumbahan darah! Mungkin patut dipertanyakan apakan kebanyakan orang tidak menghacurkan hidupnya dan membuang kebahagiaannya karena tidak mampu mengendarikan diri. Dan betapa kita tidak banyak bertemu dengan orang yang hidup dalam keseimbangan, yang memiliki kemantapan karakter yang luar biasa, yang merupakn cirri dari karakter yang telah mencapai sempurnah!”.

Ya, umat manusia terombang-ambing oleh nafsu yang tak terkendali, menjadi kacau karena kesedihan yang tak dapat di tahannya, terhempas oleh kegelisahan dan keraguan. Hanya orang yang bijak, hanya mereka yang memiliki pikiran yang terkendali dan murni, yang dapat menaklukkan angin dan badai dalam jiwanya sehimgga patutu padanya.

Jiwa-jiwa yang mudah di permaikan badai, dimana pun engkau berada, seperti apa pun kehidupan yang engkau jalani, kerhuilah: diatas kehidupan samudara ini masih ada celah keberkahan yang terbuka dan pelabuhan hangat terpat berlabuhnya harapan ideal yang engkau miliki menanti kehadiranmu. Letakkan tanganmu dengan kuat pada kendali pikiranmu. Jauh di lubuk jiwamu terletak Tuan yang mengendalikan; dia ada di sana, tetapi dia sedang tertidur, bagunkan dia. Kendari diri itu adalah kekuatan. Pikirang yang benar adalah keunggulan. Ketenagan adalah kuasa. Katakana pada hati anda, “damai, tetaplah disana!”.

April 13, 2009 Posted by | Berita, Opini | | Tinggalkan komentar

PEMANASAN GLOBAL

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Akhir Peradaban Manusia?

Beragam usaha para astrobiologi melacak jejak kehidupan dan menemukan ‘kondisi yang memungkinkan untuk kehidupan’ di belantara jagad raya makin didorong oleh berbagai masalah kebumian yang terus berkecamuk. Baru-baru ini sebuah eksoplanet, ’Super Earth’, yang mengorbit pada bintang redup Gleise 581 dan berjarak 20.5 tahun cahaya dari bumi menjadi pusat perhatian karena suhu rata-rata planet tersebut memungkinkan adanya air dalam bentuk cair. Air dalam bentuk cair sering diasossiasikan dengan peluang adanya kehidupan. Parit-parit Mars yang diduga pernah dialiri air, hingga bulan-bulan ’raksasa’ seperti Titan yang kaya unsur organis dan Europe yang memiliki lapisan es tak luput dari observasi dalam upaya pencarian habitat alternatif bagi ras manusia di masa depan. Misi Antariksa dengan investasi luar biasa untuk mengexplorasi obyek-obyek potensial menunjukkan keseriusan AS, Soviet dan negara-negara Eropa mempelajari prospek kehidupan ekstraterestrial. Dibalik obsesi mewujudkan ’koloni di luar bumi’, mungkinkah ini indikasi manusia telah jenuh dan patah arang dengan kondisi bumi yang mungkin suatu saat nanti tak dapat lagi menopang kehidupan?

DARI RIMBA MENUJU PADANG PASIR

Dalam satu abad terakhir, permukaan bumi telah mengalami peningkatan suhu yang signifikan akibat melimpahnya emisi gas rumah kaca (GRK). Revolusi industri meningkatkan intensitas penggunaan bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan Industriliasi dan energi rumah tangga. GRK masa kini yaitu; karbondioksida, metana, uap air, nitrogen oksida NOx, ozon (O3) troposfer dan CFC telah menahan radiasi infra merah yang seharusnya bisa lolos ke ruang angkasa menjadi terperangkap dan menjadikan bumi kian panas. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan peningkatan suhu global 1.4-5.8° Celcius pada akhir abad ini, dengan rata-rata laju peningkatan 0.3° C per dasawarsa. Sumber lain penyebab pemanasan global adalah penyusutan kawasan hutan (deforestasi) di AS, Eropa, Brasil, Kolumbia, dan Indonesia, serta intrusi ozon stratosfer menuju troposfer.

Kontributor terbesar pemanasan global adalah karbondioksida oleh penggunaan batubara, minyak bumi dan gas alam yang dipergunakan untuk listik dan BBM. NASA Goddard Institute for Space Studies mencatat ambang CO2 telah meningkat menjadi 360 ppmv (part per million by volume) di tahun 2001, dari 280 ppmv di tahun 1850. Ambang CO2 di atmoster mestinya tidak melebihi 450 ppmv. Sebuah sumber menyatakan, ’Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk 20% penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca, sedangkan 80% lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2. Meskipun 141 negara dalam Protokol Kyoto telah mentargetkan penurunan emisi GRK nasional rata-rata 5% bagi negara-negara Industri, namun negara pencemar utama termasuk AS dan Australia yang menyumbang emisi dalam jumlah over supply belum meratifikasi kesepakatan Internasional tersebut.

KIAMAT SUDAH DEKAT

Peningkatan suhu telah meruntuhkan es di Antartika, menaikkan volume air dan ketinggian permukaan serta menghangatkan suhu permukaan laut. Kenaikan permukaan air laut adalah ancaman bagi Negara kepulauan di Samudera Pasifik, termasuk Indonesia yang diperkirakan akan kehilangan ratusan hektar daratan, kehilangan ribuan pulau kecilnya pada akhir abad ke-21. Abrasi pantai dan intrusi air laut akan mecemari sumber-sumber air bersih, menyebabkan tambak dan sawah di daerah pasang surut akan hilang, dan krisis air bersih.

Kenaikan suhu di kutub menurunkan tekanan udara, mengakibatkan perubahan pola angin, perubahan iklim yang ekstrim dan penyimpangan cuaca seperti El Nino dan El Nina. Proses konveksi di belahan bumi Selatan akan meningkatkan curah hujan, meniup angin lebih kencang sehingga akan menimbulkan terjadinya banyak badai topan. Di sisi lain, peningkatan suhu akan mempercepat proses transpirasi hingga tanah akan lebih cepat kering dan akan memberikan efek destruktif bagi lahan pertanian. Penurunan nilai produksi pertanian akibat minimnya ketersediaan air bersih akan diperparah dengan ketidakpastian iklim dan perubahan cuaca yang tidak menentu sehingga mengancam suplai pangan dunia.

Pemanasan global akan memberikan pengaruh besar pada kesetimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Naiknya suhu akan mengganggu pola hidup flora dan fauna, mendorong beberapa spesies bermigrasi ke arah yang lebih dingin sedangkan spesies yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi akan musnah.

Penelitian menunjukkan tanaman yang bersiklus hidup pendek lebih dapat menyesuaikan diri dengan pemanasan global ketimbang tanaman yang siklus hidupnya panjang, artinya hambatan bagi proses remidiasi hutan. Perubahan temperatur berdampak positif bagi beberapa species seperti nyamuk Anopheles, kenaikan suhu dan curah hujan akan mempersingkat siklus hidup dan mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur. Akibat ledakan populasi ini, 42% penduduk dunia memiliki resiko terserang arbovirus dengue (DBD) dan parasit protozoa (malaria) yang dibawa oleh Anopheles. Virus flu burung bahkan diasumsikan akan lebih sulit ditangani karena peningkatan suhu telah mengganggu sistem kekebalan pada unggas.

Ekosistem laut tidak kalah terganggu, pemanasan global menyebabkan suhu air meningkat dan air laut makin asin. Kenaikan air laut akan merusak hutan mangrove yang menjadi barier bagi abrasi pantai, sedangkan menurut observasi suhu laut memicu wabah penyakit bunga karang. Wabah penyakit bunga karang berdampak pada memudarnya kecerahan terumbu karang hingga berakhibat kematian, padahal ribuan spesies laut bergantung pada bunga karang.

BENCANA KEMANUSIAAN

Banjir besar yang kerap dibicarakan hanya segelintir fenomena yang mungkin terjadi, namun kekeringan, badai, krisis air bersih, turunnya suplai pangan, dan peningkatan gangguan kesehatan seperti malaria, DBD, flu burung, ISPA, asma, dan kanker akan terus berjalan beriringan dengan kerusakan ekosistem. Pengurangan daratan di bumi akan menimbulkan limitnya lahan pertanian dan pemukiman. Selain pertanian, ketidakstabilan iklim dan cuaca akan berpengaruh besar bagi industri pariwisata di berbagai belahan dunia.

Saat ini Indonesia masuk dalam urutan tiga besar kontributor CO2 dunia (dan urutan pertama di Asia Tenggara) yang menyebabkan perubahan iklim dan ironisnya masuk dalam kategori negara-negara yang akan paling merasakan dampak pemanasan global. Dalam beberapa tahun mendatang, pemanasan global akan memaksa pemerintah untuk merelokasi entah berapa puluh juta penduduk Indonesia yang daerahnya terancam tenggelam. Masih relevan kan negara ini mengambil kebijakan yang beresiko memperparah pemanasan global dengan upaya pendirian PLTN dan mencanangkan program lahan gambut sejuta hektar? Disaat masa depan ras manusia yang sudah diujung tanduk, masih akankah kita sibuk dengan korupsi, illegal logging, dengan segala tetek bengeknya?

Mungkin tidak salah bila negara-negara maju beramai-ramai mengeksporasi kehidupan ekstraterestrial di luar bumi. Barangkali ekspansi ke luar bumi adalah pilihan terakhir bila seluruh manusia sudah tidak dapat berkerjasama untuk menjaga kelestarian planet bumi. Semestinya, dengan begitu sulitnya pencarian habitat alternatif yang mirip bumi, kita lebih mensyukuri keajaiban kehidupan planet bumi yang hingga kini belum ada duanya di jagad raya ini.


Didit Prihatini

Mahasiswa Fakultas Biologi UKSW

Kepunahan negara-negara dunia ketiga

Bangsa Asia dan Afrika, belum bisa mengisi perut, tidak mungkin berpikir untuk kelestarian alam

Rekayasa ’humanoid’, ekspedisi antar galaksi

Berkutat pada masalah perut, korupsi dan AIDS

April 13, 2009 Posted by | Opini | | Tinggalkan komentar