Mesa85’s Blog

Ilmu pengetahuan pada masa muda akan membuat orang menjadi bijaksana pada hari tua

PERSATUAN WARGA SUMBA DI SLATIGA (PERWASUS) DALAM SEJARAH DAN BUDAYA ORGANISASINYA

It's My

It's My

Oleh : Hans Kristian Mesa

(Sekretaris Perwasus Periode 2009-2010)

Hari ini tepatnya pada tanggal 14 Mei 2009 Persatuan Warga Sumba di Salatiga yang selanjutnya di singkat PERWASUS bertambah usianya yang ke 32 tahun. Sebagai organisasi kekeluargaan, perlu dibanggakan karena tiga puluh dua tahun PERWASUS masih menunjukan eksistensinya sebagai organisasi etnis warga sumba di Salatiga yang memilki fungsi menghimpun, mengkoordinir dan mempererat tali persaudaraan sekaligus sebagai wadah pengembangan kepemimpinan dan pengkaderan bagi warganya.

Tiga puluh dua tahun sudah PERWASUS mengelilingi matahari dan merasakan atmosfir kota Salatiga nan sejuk dan selama itu pula PERWASUS di perhadapkan dengan berbagai aktivitas organisasi yang menjadi benang merah sekaligus mempererat tali persaudaraan, baik antara warga sumba maupun warga-warga dari perkumpulan etnis lainnya.

Merangakai kembali sejarah PERWASUS tidak lah mudah, kenapa? Bagi saya mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Dalama kamus besar bahasa Indonesia arti sejarah adalah “dimana pengetahuan akan sejarah melingkupi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis”. Atas dasar itu lah, untuk mengingat dan mengumpulkan Informasi-informasi mengenai kiprah PERWASUS 32 tahun yang lampau tidak sepenuhnya saya dapati. Hanya beberapa Senior (mantan-manatan Pengurus PERWASUS periode sebelumnya) yang dapat memberikan goresan sejarah PERWASUS dan itu pun lupa-lupa ingat.

Sejarah

Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Sumba yang selanjutnya di singkat PPMS merupan cikal bakal dari berdirinya organisasi etnik-kekeluargaan yang sekarang kita kenal dengan sebutan PERWASUS. PPMS di dirikan pada 14 Juni 1977 dengan tujuan sebagai wadah yang mempersatukan pelajar dan mahasiswa Sumba yang sedang menunaikan tugas belajar di kota Salatiga. Dalam kurung waktu yang cukup lama PPMS sebagai organisasi etnik-kekeluargaan telah banyak memainkan peranan dalam membina hubungan kekeluargaan di kalangan pelajar dan mahasiswa sumba di Salatiga serta memberi andil secara berarti terhadap usaha peningkatan ketrampilan berorganisasi di kalangan anggotanya.

Dalam perjalanannya, PPMS tidak terlepas dari masalah-masalah yang terus menuntut untuk membenah diri. Pada waktu itu PPMS di katakan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Fakumnya roda organisasi dianggap sebagai salah satu masalah. Sehingga ada kesan pada waktu itu bahwa PPMS dikatakan sebagai organisasi yang sangat formal. Penyebabnya yaitu:

  1. Dalam kenyataan bahwa PPMS tidak memiliki konstitusi, karena pengalaman menunjukkan bahwa suatu organisasi “modern” (apapun itu bentuknya) tidak dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tanpa suatu dasar aturan main formal yang berterima dengan dinamika perkembangan.

  2. Kurangnya konsolidasi anggota sebagai akibat tidak terlaksananya sebagian besar kegiatan yang direncanakan karena koordinasi di kalangan Badan Pengurus dan ketersediaan sarana yang sangat minim.

  3. Frekuensi, variasi dan intensitas kegiatan/kesibukan anggota yang kerap beragam dan ketat terutama kegiatan/kesibukan studi.

  4. Lemahnya konsistensi antara masa jabatan seorang dalam kepengurusan dengan jatuh tempo penyelesaian studinya sehingga terpaksa harus meninggalkan tugasnya sebagai anggota pengurus sebelum tiba waktunya.

Patut dicatat, tidak secara eksplisit mengandaikan bahwa PPMS telah bubar dan oleh karena itu perlu dibentuk suatu organisasi yang baru tetapi sebaiknya dimengerti sebagai upaya yang dari segi moral merupakan tindakan melanjutkan panggilan yang di embani PPMS memlalui suatu wadah kekeluargaan baru yang relatif lebih berterima dengan tuntutan dan dinamika masa kini.

Dengan demikian, apabila diandaikan gagasan ini di terima sehingga pada gilirannya suatu organisasi kekeluargaan baru terbentuk, maka pada saat itu PPMS secara organisatoris mau tidak mau dianggap telah tiada tetapi dari segi fungsi, visi dan misi PPMS tetap hidup dan dijunjung dalam roda orgagisasi selanjutnya.

Atas dasar diatas lah maka, di bertuk sebauah organisasi baru untuk mengganti PPMS dengan sebutan Ikatan Keluarga Sumba Salatiga (IKSS). Namun sayang seribu kali sayang untuk menggali lebih dalam mengenai sejarah IKSS saya tidak memiliki referensi yang cukup memadai dari senior.

Bergulirnya waktu dan rasa keinginan tahuan saya akan kisah selanjutnya mengenai sejarah PERWASUS. Akhirnya pada hari kamis tanggal 27 Maret 2009 jam 14.05 WIB atau satu minggu sebelum pemilihan ketua PERWASUS periode 2009-2010, tanpa di sadari saya bertemu dengan dua orang kakak senior PERWASUS di lobi lantai dua gedung Perpustakaan Universitas Kristen Statya Wacana (UKSW). Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung bertanya mengenai kisah selanjutnya terbentuknya PERWASUS dengan menyodorkan beberapa catatan singkat mengenai sejarah PERWASUS yang saya dapati dari Website PERWASUS.

Belum sepat saya bertanya, tiba-tiba di kagetkan terlebih dahulu dengan pertanyaan yang bermuatan filofois ” Apa masud mencari nilai-nilai hidup yang disama dengan hal yang lalu?”. Jujur pertanyaan ini meguras otak saya untuk cepat berpikir dan menjawab dalam sekejap. Sebuah pertanyaan yang harus kita simak baik-baik. Tapi untung saya di selamatkan dengan penjelasan selanjutnya. Bahwa warga PERWASUS adalah orang-orang organisatoris ulung yang mampu mengatur dengan berbagai keadaan. Bukan dengan semua diktum ataupun doktrinasi yang hanya tercipta oleh kata-kata dan keadaan yang lalu. Sekarang adalah keadaan nyata sebuah wilayah yang harusnya dikreasi dalam bentuk yang bisa menyegarkan dan menumbuhkan karakter baru dalam sebuah organisasi. Dan itu lah kita (PERWASUS). Di sambut dengan senyuman khas. Lanjutnya, libih bijak PERWASUS merangkai kisah yang lebih manis di tahun yang akan datang dan biarkan masa lalu itu menjadi kenangan di atas awan tipis dan hanya pada cermin kita bercermin untuk lebih membenah PERWASUS yang lebih baik. Tutur kakak senior yang lekat dengan sapaan ramahnya.

Menanggapai beberapa catatan mengenai sejarah PERWASUS, Kakak-kakak Senior berdua ini hanya mengingat terbentuknya PERWASUS pada waktu itu. Mereka mengatakan, di bentuknya PERWASUS pada waktu itu yang di ketuai oleh Bapak Melky OE. Nganggoe, tanggalnya tidak lagi di ingat. Dengan tujuan menghimpun, mengkoordinir dan mempererat tali persaudaraan sekaligus sebagai wadah pengembangan kepemimpinan dan pengkaderan bagi seluruh warga PERWASUS. Tidak sebatas dalam internal PERWASUS saja. Dalam ranah Ekternal, PERWASUS memiliki fungsi yang kuat sebagai wadah penyalur aspirasi dan harapan bagaimana tentang kehidupan dan perkembangan anak-anak sumba yang berada di Salatiga. Fungsi kuat ini di landasi karena PERWASUS mempunyai Anggara Dasar dan Angaran Rumah Tangga (ADART) yang jelas. Jadi, PERWASUS mempuyai hak yang kuat dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah di pulau sumba dan menyumbangkan pikiran-pikiran konstruktif guna pembangunan sumba. Sehingga organisasi ini tidak hanya berguna bagi warga PERWASUS di Salatiga akan tetapi berguna juga bagi warga sumba pada umumnya. Dan semuanya itu terbukti bahwa PERWASUS di kenal oleh kalangan elite-elite di pulau sumba sampai sekarang.

Karakter Perwasus

Berbicara mengenai karakter PERWASUS pada jaman kakak-kakak senior berdua ini, mereka menuturkan karekater organisasi PERWASUS muncul bukan karena warisan masa lalu, atau karena pembawaan dan pribadi seorang ataupun beberapa orang, tetapi karakter tercipta karena adanya interaksi yang berlangsung pada saat organisasi Perasus ini berlangsung. PERWASUS selalau menciptakan suasana organisasi yang baru. Salah satunya contoh sederhana kegiatan Malam Keakraban (Makrab) dan Natal Sejawa-Bali yang pada jaman itu hanya PERWASUS memiliki program tersebut. Dimana organisasi-organisasi etnik lainnya belum ada. Itu salah satu bukti wujud keberadaan/eksistensi PERWASUS mengatur organisasi. Bukan terlalu banyak mencontoh dan meniru. Terlalu sulit meniru bagi PERWASUS, karena perbedaan karakter dan cara memanajeman yang ada dan perbedaan karakter pemimpin pada organisasi PERWASUS yang mengaturnya.

Singkat kata, karena waktu sudah menuntut kakak-kakak tersebut untuk kembali menunaikan tugas. Mereka hanya memberikan saran dan masukan kepada saya mengani PERWASUS kedepannya yaitu:

Sebagai organisasi non-formal, PERWASUS tidak terikat pada struktur pasti dan statis, yang pada dasarnya memiliki sub-sistem berupa unit-unit sebagai pembandingan tugas pokoknya. Dalam arti ini PERWASUS merupakan bentukan dari kebutuhan warganya. Eksistensi organisasi PERWASUS tidak dapat di pungkiri lagi, dimana peranannya dalam mengisi sendi – sendi kebersamaan dan persaudaraan dapat menjadikan organisasi PERWASUS sebagai contoh atau acuan bagi organisasi etnis lain yang berada di salatiga khususnya.

Dalam konteks non-formal seperti yang disebutkan diatas, sosok pemimpin dalam organisasi PERWASUS di pandang sebagai proses mempengaruhi pemikiran, membimbing perasaan, tingkah laku atau dengan kata lain sosok yang dapat memberikan motivasi dan mengarahkan semua pada pencapaian tujuan organisasi. Sejalan dengan unsur diatas, mamasuki tahun 2005 – 2007 dan tahun 2007 – 2009, PERWASUS merubah paradigma dengan memunculkan sosok pemimpin dari kalangan yunior (mahasiswa). Hal tersebut bukan karena kami (senior) dengan sengaja melimpahkan wewenang yang berarti dilakukan pelimpahan tanggung jawab sepenuhnya kepada yunior, akan tetapi senior melihat perkembangan jaman menuntut PERWASUS harus melangkah kedepan dengan lebih dewasa dan terfokus, memunculkan jiwa-jiwa kepemimpinan yang superior, kharismatik, menjadi kepemimpinan yang baru, memiliki etos kerja yang tinggi (jiwa muda), keefektifan kerja, inovasi dan dapat perbaikan kualitas. Tapi dalam hal segala proses pengendalian dan perumusan tujuan PERWASUS kedepan, dilakukan secara bersama-sama antara senior dan yunior. Dan selama ini kita selalu lakukan bersama-sama.

Mimpi Perwasus

Sebagai organisasi yang terus eksis di tengah tuntutan jaman, jelas tidak terlepas dari tantangan dan rintangan. Dan itulah kita (PERWASUS) selalu tumbuh dengan di dewasakan oleh tantangan dan rintangan. Asalkan PERWASUS selalu berada pada rel (jalur) sebagai organisasi yang mempuyai fungsi kekeluargaan, kasih dan kebersamaan. Dengan cara mewujudkan kembali mimpi – mimpi yang sempat hilang. Pertama: menjadikan PERWASUS sebagai wadah pembinaan persekutuan dan persaudaraan. Kedua: Menajdi PERWASUS sebagai contoh bagi organisasi-organisasi etnis baik di salatiga maupun di luar salatiga. Ketiga: Menjadikan PERWASUS sebagi orang tua kedua. Keempat: Menjadikan PERWASUS sebagai wadah yang dapat menyumbangkan pikiran-pemikiran untuk pembangunan di sumba. Kelima: Menjadikan PERWASUS sebagai wadah belajar bagi mahasiswa Sumba di salatiga.

Sekali lagi karena jam sudah menunjukan kakak-kakak ini harus kembali bekerja, mereka hanya berpesan sebagai wagra PERWASUS, kita seharusnya berbangga hati dan mencintai organisasi ini. Jangan sungkan berorgasasi, sebab kita juga dulu di dewasakan oleh organisasi ini. Mungkin kalian (yunior) tak begitu memahami kami, tapi kami selalu memberikan simpatik kepada kalian. Akhirnya perpisahan itu juga terjadi, padahal saya masih ingin mengetahui lebih banyak mengenai PERWASUS. Senyuman khas dari mereka dan ucapan selamat siang mengakhiri perjumpaan siang itu. Singkat, padat dan jernih sehingga mudah dipahami khususnya bagi saya yang hendak mengembangkan budaya pada organisasi.

Sekian persembahakan tulisan ini. Kepada sahabat-sahabat ku di PERWASUS baik yang pernah atau sementara bekerja sama denganku dalam organisasi PERWASUS. Pengalaman berharga saya ini memberikan wacana dan pelajaran bahwa budaya kekeluargaan menentukan keberhasilan organisasi.

Namun, mengapa sebagian besar organisasi di Indonesia, khususnya teman-teman organasasi entik sumba yang berada di luar Salatiga, tidak memberika prioritas untuk mengembangkan budaya organisasi? Budaya ini memberikan pemahaman tentang makna budaya organisasi, memaparkan mengapa sebagian besar organisasi “enggan” mengembangkan budaya, sekaligus memberikan “cara” bagaimana melakukan transformasi informasi.


Iklan

Juni 12, 2009 - Posted by | Perwasus | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: