Mesa85’s Blog

Ilmu pengetahuan pada masa muda akan membuat orang menjadi bijaksana pada hari tua

PEMANASAN GLOBAL

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Akhir Peradaban Manusia?

Beragam usaha para astrobiologi melacak jejak kehidupan dan menemukan ‘kondisi yang memungkinkan untuk kehidupan’ di belantara jagad raya makin didorong oleh berbagai masalah kebumian yang terus berkecamuk. Baru-baru ini sebuah eksoplanet, ’Super Earth’, yang mengorbit pada bintang redup Gleise 581 dan berjarak 20.5 tahun cahaya dari bumi menjadi pusat perhatian karena suhu rata-rata planet tersebut memungkinkan adanya air dalam bentuk cair. Air dalam bentuk cair sering diasossiasikan dengan peluang adanya kehidupan. Parit-parit Mars yang diduga pernah dialiri air, hingga bulan-bulan ’raksasa’ seperti Titan yang kaya unsur organis dan Europe yang memiliki lapisan es tak luput dari observasi dalam upaya pencarian habitat alternatif bagi ras manusia di masa depan. Misi Antariksa dengan investasi luar biasa untuk mengexplorasi obyek-obyek potensial menunjukkan keseriusan AS, Soviet dan negara-negara Eropa mempelajari prospek kehidupan ekstraterestrial. Dibalik obsesi mewujudkan ’koloni di luar bumi’, mungkinkah ini indikasi manusia telah jenuh dan patah arang dengan kondisi bumi yang mungkin suatu saat nanti tak dapat lagi menopang kehidupan?

DARI RIMBA MENUJU PADANG PASIR

Dalam satu abad terakhir, permukaan bumi telah mengalami peningkatan suhu yang signifikan akibat melimpahnya emisi gas rumah kaca (GRK). Revolusi industri meningkatkan intensitas penggunaan bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan Industriliasi dan energi rumah tangga. GRK masa kini yaitu; karbondioksida, metana, uap air, nitrogen oksida NOx, ozon (O3) troposfer dan CFC telah menahan radiasi infra merah yang seharusnya bisa lolos ke ruang angkasa menjadi terperangkap dan menjadikan bumi kian panas. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan peningkatan suhu global 1.4-5.8° Celcius pada akhir abad ini, dengan rata-rata laju peningkatan 0.3° C per dasawarsa. Sumber lain penyebab pemanasan global adalah penyusutan kawasan hutan (deforestasi) di AS, Eropa, Brasil, Kolumbia, dan Indonesia, serta intrusi ozon stratosfer menuju troposfer.

Kontributor terbesar pemanasan global adalah karbondioksida oleh penggunaan batubara, minyak bumi dan gas alam yang dipergunakan untuk listik dan BBM. NASA Goddard Institute for Space Studies mencatat ambang CO2 telah meningkat menjadi 360 ppmv (part per million by volume) di tahun 2001, dari 280 ppmv di tahun 1850. Ambang CO2 di atmoster mestinya tidak melebihi 450 ppmv. Sebuah sumber menyatakan, ’Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk 20% penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca, sedangkan 80% lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2. Meskipun 141 negara dalam Protokol Kyoto telah mentargetkan penurunan emisi GRK nasional rata-rata 5% bagi negara-negara Industri, namun negara pencemar utama termasuk AS dan Australia yang menyumbang emisi dalam jumlah over supply belum meratifikasi kesepakatan Internasional tersebut.

KIAMAT SUDAH DEKAT

Peningkatan suhu telah meruntuhkan es di Antartika, menaikkan volume air dan ketinggian permukaan serta menghangatkan suhu permukaan laut. Kenaikan permukaan air laut adalah ancaman bagi Negara kepulauan di Samudera Pasifik, termasuk Indonesia yang diperkirakan akan kehilangan ratusan hektar daratan, kehilangan ribuan pulau kecilnya pada akhir abad ke-21. Abrasi pantai dan intrusi air laut akan mecemari sumber-sumber air bersih, menyebabkan tambak dan sawah di daerah pasang surut akan hilang, dan krisis air bersih.

Kenaikan suhu di kutub menurunkan tekanan udara, mengakibatkan perubahan pola angin, perubahan iklim yang ekstrim dan penyimpangan cuaca seperti El Nino dan El Nina. Proses konveksi di belahan bumi Selatan akan meningkatkan curah hujan, meniup angin lebih kencang sehingga akan menimbulkan terjadinya banyak badai topan. Di sisi lain, peningkatan suhu akan mempercepat proses transpirasi hingga tanah akan lebih cepat kering dan akan memberikan efek destruktif bagi lahan pertanian. Penurunan nilai produksi pertanian akibat minimnya ketersediaan air bersih akan diperparah dengan ketidakpastian iklim dan perubahan cuaca yang tidak menentu sehingga mengancam suplai pangan dunia.

Pemanasan global akan memberikan pengaruh besar pada kesetimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Naiknya suhu akan mengganggu pola hidup flora dan fauna, mendorong beberapa spesies bermigrasi ke arah yang lebih dingin sedangkan spesies yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi akan musnah.

Penelitian menunjukkan tanaman yang bersiklus hidup pendek lebih dapat menyesuaikan diri dengan pemanasan global ketimbang tanaman yang siklus hidupnya panjang, artinya hambatan bagi proses remidiasi hutan. Perubahan temperatur berdampak positif bagi beberapa species seperti nyamuk Anopheles, kenaikan suhu dan curah hujan akan mempersingkat siklus hidup dan mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur. Akibat ledakan populasi ini, 42% penduduk dunia memiliki resiko terserang arbovirus dengue (DBD) dan parasit protozoa (malaria) yang dibawa oleh Anopheles. Virus flu burung bahkan diasumsikan akan lebih sulit ditangani karena peningkatan suhu telah mengganggu sistem kekebalan pada unggas.

Ekosistem laut tidak kalah terganggu, pemanasan global menyebabkan suhu air meningkat dan air laut makin asin. Kenaikan air laut akan merusak hutan mangrove yang menjadi barier bagi abrasi pantai, sedangkan menurut observasi suhu laut memicu wabah penyakit bunga karang. Wabah penyakit bunga karang berdampak pada memudarnya kecerahan terumbu karang hingga berakhibat kematian, padahal ribuan spesies laut bergantung pada bunga karang.

BENCANA KEMANUSIAAN

Banjir besar yang kerap dibicarakan hanya segelintir fenomena yang mungkin terjadi, namun kekeringan, badai, krisis air bersih, turunnya suplai pangan, dan peningkatan gangguan kesehatan seperti malaria, DBD, flu burung, ISPA, asma, dan kanker akan terus berjalan beriringan dengan kerusakan ekosistem. Pengurangan daratan di bumi akan menimbulkan limitnya lahan pertanian dan pemukiman. Selain pertanian, ketidakstabilan iklim dan cuaca akan berpengaruh besar bagi industri pariwisata di berbagai belahan dunia.

Saat ini Indonesia masuk dalam urutan tiga besar kontributor CO2 dunia (dan urutan pertama di Asia Tenggara) yang menyebabkan perubahan iklim dan ironisnya masuk dalam kategori negara-negara yang akan paling merasakan dampak pemanasan global. Dalam beberapa tahun mendatang, pemanasan global akan memaksa pemerintah untuk merelokasi entah berapa puluh juta penduduk Indonesia yang daerahnya terancam tenggelam. Masih relevan kan negara ini mengambil kebijakan yang beresiko memperparah pemanasan global dengan upaya pendirian PLTN dan mencanangkan program lahan gambut sejuta hektar? Disaat masa depan ras manusia yang sudah diujung tanduk, masih akankah kita sibuk dengan korupsi, illegal logging, dengan segala tetek bengeknya?

Mungkin tidak salah bila negara-negara maju beramai-ramai mengeksporasi kehidupan ekstraterestrial di luar bumi. Barangkali ekspansi ke luar bumi adalah pilihan terakhir bila seluruh manusia sudah tidak dapat berkerjasama untuk menjaga kelestarian planet bumi. Semestinya, dengan begitu sulitnya pencarian habitat alternatif yang mirip bumi, kita lebih mensyukuri keajaiban kehidupan planet bumi yang hingga kini belum ada duanya di jagad raya ini.


Didit Prihatini

Mahasiswa Fakultas Biologi UKSW

Kepunahan negara-negara dunia ketiga

Bangsa Asia dan Afrika, belum bisa mengisi perut, tidak mungkin berpikir untuk kelestarian alam

Rekayasa ’humanoid’, ekspedisi antar galaksi

Berkutat pada masalah perut, korupsi dan AIDS

Iklan

April 13, 2009 Posted by | Opini | | Tinggalkan komentar