Mesa85’s Blog

Ilmu pengetahuan pada masa muda akan membuat orang menjadi bijaksana pada hari tua

Pemimpin Daerah Di Era Desentralisasi

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Oleh : Hans Kristian Mesa

img_0038Tidak lama lagi Sumba Tengah akan mencatat sejarah baru. Dengan mengadakan sebuah pesta demokrasi yaitu Pemilihan Kepala Daerah (pilkada). Sebagai kabupaten baru, pilkada merupakan tolak ukur untuk masyarakat Sumba Tengah memilih Bupati dan Wakil Bupati yang akan memimpin Sumba Tengah lima tahun kedepan.
Semua calon yang telah mendeklarasikan sebagai calon Bupati dan wakil Bupati Sumba Tengah sudah siap-siap berkampanye dengan berbagai cara dan strategi. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencari simpati massa, dari mulai mengunjungi pasar, berkunjung kedesa-desa, menghadiri seminar, debat terbuka, sampai membagi-bagikan sembako. Intinya semua calon siap dengan segala perangkat kampanyenya.

Terlepas siapapun yang menjadi pemimpin yang harus menjadi perhatian adalah, siapapun yang terpilih ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama dengan figur untuk menjadi seorang pemimpin Sumba Tengah di era desentralisasi. Sosok figur pemimpin ideal yang akan datang menjadi masalah sentral yang benar-benar harus mendapatkan perhatian serius dari parpol pengusung pasangan calon serta para pemilih Pilakada 2008, karena pasangan bupati dan wakil bupati yang terpilih dalam Pilkada 2008 akan menjadi nakhoda, penentu arah dan keberhasilan Sumba Tengah dalam mencapai kemajuan pembangunan disegala bidang. Tidak hanya mengusung calon peminpin untuk membangunkan khalayak masyarakat Sumba Tengah untuk semata-mata mengidealkan figur pemimpin menjelang kontes pemilihan kepala daerah (Pilkada), tetapi juga menggugah komitmen masyarakat untuk sungguh-sungguh berkolaborasi dengan pemerintah serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan sesuai posisi dan perannya. Kriteria pemimpin ideal sudah menjadi topik pembicaraan yang lazim. Bahkan untuk sebagian orang sudah cukup memancing rasa bosan. Bahkan ada yang bertanya “tidak ada topik lain yang lebih pantas dibicarakan menyongsong suksesi kepemimpinan politis daerah?”. Saya hanya berkomentar “tulisan ini merupakan intisari pemikiran kaum intelektual yang dirangkum dari hasil diskusi Forum Masyarakat Peduli Sumba Tengah (FMPST).

Desentralisasi: Konsep dan prktek

Dalam upaya menjaga keseimbangan kuasa dan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam konteks perwujudan integrasi bangsa, desentralisasi sudah diterapkan di Indonesia pasca-pengeluaran UU 22/1999. Desentralisasi diartikan sebagai ‘pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.”(Pasal 1,ayat7UU RI No.32/2004).
Bandingkan pengertian di atas dengan konsep desentralisasi yang dipaparkan para ahli. Hanson (1998) membagi desentralisasi menjadi: (1) dekonsentrasi (pelimpahan tugas dan unit kerja, bukan wewenang, dari unit yang lebih tinggi dalam organisasi ke unit yang lebih rendah; (2) delegasi (pelimpahan wewenang dalam pengambilan keputusan dari unit organisasi yang lebih tinggi ke tingkatan lebih rendah, tetapi wewenang itu sesekali dapat dicabut kembali ketika unit yang diberi wewenang itu tidak mampu lagi melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diemban); (3) devolusi (pelimpahan wewenang dan tanggung jawab disertai dengan dasar hukum kepada unit lebih rendah yang otonom untuk dapat bertindak secara mandiri tanpa selalu meminta izin dari level kekuasaan lebih tinggi). Kiranya jelas bahwa dalam tataran konsep, desentralisasi di Indonesia sudah bercorak devolusi karena tidak hanya pelimpahan wewenang ke daerah-daerah otonom dilandasi undang-undang. Sayang, dalam prakteknya, dekonsentrasi dan delegasi yang terjadi. Akibatnya, muncul berbagai masalah mendasar dalam konteks desentralisasi di Indonesia: (1) ketergantungan pemerintahan daerah yang tinggi ke pemerintah pusat, (2) rumusan kebijakan yang membingungkan, (3) kuasa dan wewenang Jakarta yang masih kuat; dan (4) peran Jakarta yang masih dominan dalam manajemen sumber daya alam dan lingkungan sehingga membatasi partisipasi masyarakat. Sampai di sini, jawaban terhadap pertanyaan diatas untuk menuntut figur pemimpin Sumba Tengah yang ideal dan berpihak pada rakyat terjawab: Partisipasi dan komitmen masyarakat dapat meningkat jika kuasa dan wewenang dalam pengambilan keputusan dilimpahkan kepadanya sesuai peran dan fungsinya.

Pemimpin yang ideal
Dalam realitas seperti ini, para pemimpin dan calon pemimpin daerah yang dibutuhkan masyarakat Sumba Tengah ke depan perlu berjiwa misioner, visioner, strategis, transformatif, autentik, dan etis. Pemimpin berjiwa strategis berorientasi pada misi dan visi yang bukan ditetapkan secara gegabah melainkan berdasarkan penelitian-penelitian independen. Betapa tidak, misi selalu menjawab pertanyaan fundamental: Mengapa kita berada di sini? Misi merupakan pernyataan yang mengandung prinsip utama atau tujuan mendasar pembangunan itu sendiri. Jika dibandingkan dengan sebuah perjalanan, misi merupakan tujuan akhir sebuah perjalanan. Visi, pada gilirannya ingin menjawab: Bagaimana agar misi tersebut akan diwujudkan pada masa mendatang? Karena itu ia dapat diibaratkan sebuah kompas, arah perjalanan yang akan ditempuh pembangunan itu sendiri.
Selanjutnya, misi dan visi saja tidak cukup. Ia harus bermata rantai dengan rencana strategis. Seperti visi, rencana strategis membayangkan sebuah kenyataan masa depan yang beda dari kenyataan sekarang. Namun, tidak seperti visi, rencana strategis menawarkan strategi yang sistematik untuk mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai pada masa mendatang. Rencana keseluruhan dipetakan sejak awal secara spesifik sehingga keseluruhan proses dapat secara jelas dipaparkan. Berkaitan dengan ini, visi memang berorietasi pada tujuan, tetapi ia tidak selalu memetakan cara-cara yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut, terutama jika tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang tidak akan pernah dicapai. Rencana merupakan peta perjalanan. Ia berfungsi menyediakan rute, jadwal, dan bahkan waktu perjalanan yang akan ditempuh. Kemandulan pembangunan Sumba pada umumnya bisa saja berakar, salah satunya, pada lemahnya aspek perencanaan dan kepemimpinan strategis . Selanjutnya, pemimpin dan calon pemimpin yang strategis perlu didukung model kepemimpinannya yang transformasional. Karena itu Sumba Tengah perlu seorang pemimpin dan calon pemimpin yang tidak hanya menjadi perumus tujuan dan penunjuk arah, tetapi seseorang yang mampu mengatur rencana strategis secara transformasional. Kekhasan pemimpin transformasional terletak pada fungsinya sebagai sumber inspirasi bagi pengikut untuk komitmen pada tujuan-tujuan bersama. Berbeda dengan tipe kepemimpinan transaksional yang ditandai dengan motif relasi pemimpin dan yang dipimpin untuk sebuah kerangka simbiosis mutualisme (saling menguntungkan), kepemimpinan transformasional pertama-tama berinteraksi dengan pengikutnya demi integritas dan tujuan bersama.
Seorang pemimpin transformasional dapat dikatakan autentik dan etis ketika dia berorentasi pada kualitas, nilai-nilai, dan tujuan sekaligus mampu menghargai aspek kemanusiaan. Ia lebih bersikap proaktif daripada reaktif dan secara kreatif menciptakan berbagai peluang yang mungkin untuk perbaikan agar tercapainya pemenuhan kebutuhan kemanusiaan.
Belajar dari Soekarno dan Soeharto
Argumen ini berpijak pada perkembangan kepemimpinan dua mantan presiden indonesia yang pada awal karir kepemimpinannya. Hos Cokroaminoto gurunya Bung Karno adalah seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian sejati, akan tetapi kalah dengan sosok muridnya Bung Karno yang memiliki kharisma dan gaya hidup yang merupakan simbol pemimpin Nasional. Namun akhirnya jatuh akibat rakyat meragukan sepakterjang dan kejujuran Putra Sang Fajar itu. Kemudian muncul Seoharto yang disebut bak pahlawan besar. Sayang gebrakan pak Harto selama 32 tahun dalam bidang ekonomi- pembagunan sebagai panglima dalam kepemimpinannya dinodai KKN. Dan rakyat Indonesia pun kecewa. Dilengser dari dari tumpuk kekuasaan.

Ungkapan di atas sengaja dipetik di sini untuk membuka cakrawala pikiran kita bahwa ke depan Sumba Tengah membutuhkan pemimpin yang tidak mudah dicuci otaknya oleh gaya kepemimpinan dan kepribadia calon Bupati/Wakil Bupati. Sumba Tengah ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu memahami realitas hari ini secara menyeluruh dan proporsional untuk mampu memprediksi akan apa yang terjadi mendatang. Dan Sumba Tengah ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu berkata cukup bahkan berhenti menjadi pemimpin kalau Sumba Tengah masih digurau dengan Nasib Tidak Tentu. Karena itu pilihlah calon pemimpin yang bermutu, bukan semata-mata karena dia berbasis Kristen Protestan atau Katolik; bukan semata-mata karena dia orang Sabu atau Sumba; apalagi kalau hanya melihat dia dari A, B atau gabungan partai-partai politik lainnya. Mudah-mudahan…?

April 13, 2009 Posted by | Opini | , | Tinggalkan komentar